Harapan niscaya akan berubah seiring usiaku. Hal tersebut mungkin dipengaruhi oleh situasi lingkungan serta perkembangan otakku ini. Entah apa yang membedakan, tetapi yang jelas tiap kali pertanyaan seputar harapan atau cita-cita, waktu kecil, aku selalu menjawab ingin menjadi dokter. Menjadi dokter dengan dalih ingin menyembuhkan orang sakit itu pun hanya celoteh sesaat, kemudian terkadang berubah semau hati, tanpa berfikir panjang, bahkan mencontoh harapan/ cita-cita teman, seperti pilot, insinyur dan lainnya. Namun, harapan itu kini berubah berlandaskan hati. Pola pemikiran dan situasi sosial yang kuhadapi dalam hidup ini yang membawaku pada harapan yang menurut sederhana namun sulit jika hanya aku sendiri.
Harapanku kurangkum dalam dua kalimat, “Indonesia Harmonis”. Menurutku, istilah harmonis tepat untuk merangkum poin-poin harapan yang kuinginkan, diantaranya; perekonomian membaik; tidak ada diskriminasi; masyarakat Indonesia mencintai bangsanya sendiri yang terbukti tidak hanya melalui kata-kata, tetapi juga tindakan; serta perubahan setiap orang untuk mau berfikir ketika akan bertindak dengan mempertimbangkan semua aspek. Harapan untuk perekonomian membaik dipengaruhi keadaan yang kulihat setiap berangkat kuliah, begitu banyak pengemis dan bahkan anak dibawah umur yang bekerja di kereta/ jalan, hanya untuk mencukupi pangan. Mereka tidak mampu bersekolah karena kondisi ekonomi. Di bidang pendidikan, memang kini telah gratis hingga 9 tahun, namun masih saja diberatkan oleh faktor penunjang seperti baju seragam, buku dan lainnya. Hal tersebut tentu saja membuat kaum papa semakin pusing. Poin harapan kedua yaitu mengenai diskriminasi. Harapan untuk meminimalkan diskriminasi RAS (Ras, Agama, Suku) dan golongan, didasari karena fakta hingga sekarang masih terjadi dalam kehidupan sekitarku, bahkan jika kamu peka, mungkin juga di sekitarmu. Poin ketiga yaitu cinta Indonesia, karena masih banyak masyarakat yang hanya ikut-ikut trend cinta Indonesia tetapi tidak dibuktikan dengan tindakan. Contohnya terjadi di keluargaku, dahulu setiap anak mampu membatik traditional, namun karena alasan upah membatik minim, mereka lebih memilih meninggalkannya. Aku menyadari fenomena tersebut baru dalam mudik terakhir ini (dan hanya mbah yang kini masih bisa membatik). Point terakhir adalah harapan agar semua orang mau berfikir dan bertindak tidak hanya untuk keuntungan pribadi tetapi juga mempertimbangkan dampak-dampak yang mungkin terjadi, baik positif maupun negatif dari berbagai aspek. Hal tersebut dikarenakan masih banyak keputusan yang hanya diambil secara sepihak pada rapat-rapat, dan pada umumnya jajak pendapat pun tidak berfungsi optimal karena banyak pihak yang hanya ikut arus.
Bentang harapan yang kutulis ini mungkin banyak diacuhkan bahkan ditertawai sebagian orang, karena terlalu berisikan bab-bab PPKN, salah satu mata pelajaran di bangku sekolah bahkan kuliah. Namun itulah yang kurasakan saat ini, kubentangkan harapanku seluas-luasnya untuk Indonesia harmonis. Silahkan rasakan situasi sekitar hidup kalian, dengan panca indera dan hati, pasti kalian akan merasakan apa yang kurasakan. Walaupun terlalu mustahil, tetapi aku yakin dapat terwujud dengan kemauan dan kepedulian kita bersama. (CMIIW)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar